Minggu, 22 November 2015

MENGHADAPI KEKALAHAN

KEKALAHAN selalu saja membawa luka dan duka. Tapi, setiap kekalahan sesungguhnya memberikan pelajaran tiada tara.

*******

Dalam sejarah peradaban Islam, salah satu kekalahan paling menyakitkan terjadi ketika Perang Uhud (625 Masehi, 3 Hijriyah). Bukan hanya karena kematian paman Rasulullah SAW, Hamzah AS (alaihi salam), melainkan pula karena syahidnya para penghafal Al Qur'an.

Kemenangan yang telah hadir di depan mata, tiba-tiba berubah menjadi kekalahan. Ketidakpatuhan atas perintah Rasulullah SAW agar para pemanah tidak meninggalkan posisinya, dan godaan atas ghanimah (rampasan perang) dituding menjadi penyebab utama keberhasilan pasukan kaum Musyrikin  yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid memukul mundur pasukan Muslimin. Meskipun belakangan hari kemudian, Khalid Bin Walid memeluk Islam dan diberi gelar "pedang Allah".

Di dunia barat, salah satu catatan kelam tentang kekalahan adalah nasib yang menimpa John Milton (1807-1865 Masehi), Gubernur Florida USA pada masa Pemerintahan Presiden Abraham Lincoln.

Kala itu, penyerahan diri Jenderal Robert Lee yang memimpin pemberontakan negara-negara bagian di selatan USA (Alamaba, Florida, Georgia, Louisiana, Mississippi, South Carolina dan Texas), tak disetujui oleh John Milton. Dia juga tidak bisa menerima kemenangan Abraham Lincoln pada pemilu berikutnya. Akibatnya, dia mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri setelah sebelumnya menuliskan ketidaksetujuannya itu pada sepucuk surat yang ditujukan pada anaknya.

Masih banyak contoh lagi yang dicatat oleh sejarah tentang betapa sakitnya kekalahan. Tapi, sejarah juga menyajikan jamak kisah kebangkitan dari kekalahan demi kekalahan.

Kiranya belum lekang diingatan kita tentang sebuah peristiwa yang disebut sebagai "tragedi Istanbul". Liverpool yang telah tertinggal 0-3 dari AC Milan pada paruh pertama final liga champion tahun 2005, akhirnya dapat membalikkan keadaan. Kemal Ataturk stadium menjadi saksi kebangkitan dari kekalahan. Mukjizat di Istanbul ini kemudian diabadikan dalam film Fifteen Minutes That Shook The World. Konon, di ruang ganti pemain, salah satu penggalan kalimat dari Rafael Benitez pada anak asuhnya adalah "... Jangan tundukkan kepala kalian. Kalian tak pantas menyebut kalian pemain Liverpool kalau kepala kalian tertunduk..."

Begitu pula ketika Hiroshima dan Nagasika dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat pada tahun 1945, yang menewaskan sedikitnya 120 ribu jiwa penduduk Negeri Sakura. Kekalahan yang diderita Jepang memicu para pemimpin negeri itu untuk bangkit. Sekitar 25 tahun kemudian, giliran Jepang yang "membom" USA dengan produk-produk teknologi tinggi.

*******

Senin, 16 November 2015

IKAT PINGGANG PUN HARUS DILEPAS

Tak seperti biasanya, hari ini 17 Nopember 2015, di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, setiap calon penumpang yang akan memasuki kawasan terminal di lantai 2, mengalami pemeriksaan yang cukup ketat.

Melewati bagian pemeriksaan di bandar udara ini, jam tangan yang dipakai wajib dilepas. Bahkan semua calon penumpang yang mengenakan ikat pinggang juga harus rela melepaskannya untuk dimasukkan ke dalam x-tray.

"Ada apa ini", Tanya salah seorang penumpang dengan nada kesal. "Mungkin Paris effect pak," responku sekenanya.

Memang tak ada official notification terkait soal ini. Tapi, setiap kita bisa meraba apa gerangan yang sedang terjadi.

Bagi anda yang merasakan pengalaman pemeriksaan seperti ini, pastilah amat tergganggu. Tapi, tak ada salahnya mengikuti keputusan atas nama tindakan pencegahan guna keselamatan bersama.

Sedikit tanya mengganggu pikiranku. Mengapa model pemeriksaan seperti ini hanya dilakukan secara temporer? Apakah gangguan itu tidak bersifat laten?

Mari selalu berdoa untuk keselamatan penduduk negeri ini dan kebaikan bersama umat manusia.

Warung Kopi Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, 17 Nopember 2015.

Sabtu, 14 November 2015

PARIS BERDARAH

Tak kurang 120 orang meregang nyawa di Paris, Jumat malam 13 Nopember 2015.

Bom yang diledakkan dan peluru yang dimuntahkan ke arah kerumunan manusia di 5 lokasi berbeda di seputaran Kota Paris membuat kota mode kembali berdarah.

Belum lekang di ingatan kita, 7 Januari 2015 silam, sedikitnya 12 nyawa melayang pada peristiwa yang dikenal dengan sebutan "Penembakan Charlie Hebdo", juga di Kota yang tak berbeda.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi di Perancis dan Eropa? Sungguh sulit mencari jawabannya.

Yang pasti, tak satupun bentuk kebrutalan yang dapat dibenarkan. Termasuk kekerasan yang terjadi di Palestina, Nyanmar, Xinjiang-China dan lainnya.

#Pray4Paris #Pray4HumanBeing

Makassar 14 Nopember 2015

Selasa, 03 November 2015

PERNIKAHAN USIA ANAK*

22 Desember kemarin, ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari ibu nasional. Peringatan yang biasanya ditandai dengan "pembebastugasan" para ibu dari "kewajiban" domestiknya, mulai dari memasak, mencuci hingga membersihkan seisi rumah. Boleh jadi ada diantara kita yang ikut merayakannya, tapi tidak sedikit pula yang sangat mungkin mengacuhkannya. Doing bussiness as usual. Tak perlu ada yang disalahkan.

Sejarah mencatat, Kongres Perempuan Indonesia (KPI) yang pertama kali dilakukan pada 22 Desember 1928--yang kemudian menjadi dasar dalam menetapkan hari ibu--dilatari oleh keinginan untuk memperbesar peran perempuan dalam berbagai aspek pembangunan, khususnya dalam perbaikan gizi keluarga, kesehatan ibu anak, termasuk untuk menolak pernikahan usia anak.

Tukilan singkat ini, ingin meng-address perspektif kita kepada salah satu tujuan dari kongres perempuan Indonesia itu, yakni tentang penikahan usia anak. Anak menurut UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Merujuk pada hasil penelitian ICRW (International Centre for Research on Women), perempuan yang berasal dari keluarga miskin hampir dua kali lebih mungkin untuk menikah sebelum usia 18 tahun tinimbang anak perempuan dari keluarga yang berpendapatan tinggi.

Bahkan, ICRW mencatat, salah satu penyebab utama kematian anak perempuan usia 15 sampai 19 adalah berhubungan dengan proses kehamilan. Para perempuan di seluruh dunia yang menikah sebelum usia 18 tahun lebih mungkin untuk mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Studi lembaga ini di India menemukan bahwa anak-anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun dua kali lebih mungkin untuk dipukuli, ditampar atau terancam oleh suaminya.

Kita boleh saja berkilah, bahwa praktek kekerasan dalam rumah tangga kerap kali bergantung pada siapa dan dimana pertistiwa itu terjadi. Demikian halnya dengan data tingginya jumlah kehamilan diluar nikah, justru terjadi pada usia remaja (15-19 tahun), lantas menjadi pembenar untuk melangsungkan pernikahan usia anak.

Akan tetapi, kenyataan ini tidak dapat pula dilepaskan dari UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam aturan itu, seorang anak perempuan diperbolehkan menikah minimal pada usia 16 tahun dan anak laki-laki pada usia paling tidak 19 tahun. Mungkin ini pulalah yang mendorong berbagai komponen bangsa ini yang mendesakkan revisi atas aturan tersebut. Salah satu kontenya adalah bahwa sebuah perkawinan hanya diizinkan jika kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) telah berusia 18 tahun.

Di samping itu, aspek biologis berupa kematangan organ intim anak dan aspek psikologis terkait perkembangan kejiwaan dan emosi anak, seyogyanya dapat dilihat secara lebih utuh sebelum mengambil keputusan menikahkan anak pada usia dini. Belum lagi jika melirik pada akibat sosiologis yang ditimbulkan seperti hilangnya kesempatan anak untuk bersekolah karena nikah muda.

Ingatan kita mungkin belum lekang dengan kasus Syech Puji yang menikahi santrinya pada tahun 2008 lalu. Bocah, yang kala itu masih berusia 12 tahun bernama Lutfiana Ulfa menyebut bahwa “Saya menikah dengan Syech Puji bukan karena paksaan, saya menikah karena cinta,”. Kendatipun kini Syech Puji dan Ulfa sudah dapat bersama setelah bersabar sekitar empat tahun lamanya guna menunggu batas minimal usia perempuan dapat menikah, tapi, peristiwa ini mengajarkan kita bahwa pernikahan usia dini telah meminggirkan kita jauh dari akar rasionalitas.

Akhirnya, selamat hari ibu. Semoga para ibu dapat lepas dari berbagai jerat kekerasan dalam rumah tangga mereka. Generasi emas akan lahir dari kasih sayang yang dahsyat yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya.

*Diterbitkan oleh koran RADAR SULBAR edisi 22 Desember 2014

Bacalah...

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan;
Yang menciptakanmu dari segumpal darah;
Bacalah dan Tuhanmu pasti Maha Pemurah;
Yang mengajarimu dengan perantaraan pena;
Yang mengajari manusia hal-hal yang belum diketahuinya;