Selasa, 23 Mei 2017

PESAN BUAT GUBERNUR SULBAR

Sulbar kini bukanlah Sulbar yang dulu. Telah jamak kemajuan di berbagai matra kehidupan rakyatnya.

Tapi, situasi ini tak perlu lantas membuat kita berbangga hati. Salah satu masalah utama provinsi ke 33 ini ada di sektor pendidikan.

Merujuk pada data BPS tahun 2015, rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas di Sulbar hanya 6.94 tahun. Itu artinya setara dengan kelas 1 SMP.

Jika bagian ini tidak segera dibenahi, maka 20 tahun mendatang Sulbar akan sulit menjadi "tuan rumah"  di kampung besar AFTA. Sulbar akan tetap menjadi provinsi pengimpor tenaga kerja. Sulbar akan kepayahan menaikkan capaian IPM-nya.

Secara sederhana, 5 tahun kepemimpinan ABM-ENNY semestinya mampu menaikkan rata-rata lama sekolah hingga 8-9 tahun. Kenapa bisa? Ruang kewenangan pengelolaan SMA/SMK yang telah beralih ke provinsi dan besarnya ruang fiskal  menjadi kata kuncinya.

Betapa tidak, data Kemdikbud bahwa APM SM sederajat 2015/2016 Sulbar yang baru mencapai 60,57, adalah gambaran situasi bermasalahnya Sulbar pada level pendidikan menengah. Dan karenanya, angka yang rendah itu menjadi peluang besar bagi Pemerintah Provinsi Sulbar.

Semoga issu ini menjadi salah satu prioritas dalam penyusunan RPJMD.

23 Mei 2017,
Bandara Juanda Surabaya

Selasa, 15 Maret 2016

ALAS KAKI DI RUMAH SAKIT

Siang ini saya membesuk adik ipar yang baru saja melahirkan di salah satu rumah sakit. Berkat izin Tuhan disertai pemeriksaan rutin dari sang ibu sejak trimester pertama kehamilan, ibu dan anaknya dalam kondisi sehat.

Saya tidak ingin bercerita tentang peristiwa kelahiran itu. Tapi tentang alas kaki yang berseliweran di rumah sakit yang menggangu mata dan pikiranku.

Di ruang-ruang tunggu rumah sakit, dengan mudah kita mendapati tulisan "buka alas kaki" atau semacamnya. Dan, nyaris semua pasien atau pembesuk akan patuh pada aturan itu. Kecuali mereka yang mungkin tak bisa membaca atau dengan sengaja abai atasnya.

Tapi tunggu dulu. Saya mengamati  aturan ini tampaknya tidak berlaku bagi tenaga kesehatan (nakes) di tempat itu. Buktinya, sebagian dari mereka tetap memakai alas kaki pada ruang-ruang dengan perintah "buka alas kaki".  "Mungkin ada pengecualian yang memang layak dibenarkan," pikirku.

Tapi, ketika kuamati sendal dan sepatu yang  mengalasi kaki para nakes itu, terlihat tidak sepenuhnya bersih apalagi steril. Alas kaki itu digunakan melintasi lantai-lantai yang tak bersih.

Tapi, disini kita tak boleh protes dan wajib mengerti dengan keistimewaan itu...

Selasa, 08 Maret 2016

GERHANA MATAHARI

Disini, di seputaran Kota Mamuju, 9 Maret 2016, peristiwa gerhana matahari dapat diamati. Sang surya tampak laksana bulan sabit. Bumi tidak tertutup sempurna oleh bulan.

Sebagian manusia asyik mengamati peristiwa alam ini dengan peralatan seadanya atau memakai bantuan teknologi. Tapi tidak sedikit pula yang bertebaran di masjid-masjid dan lapangan guna menunaikan shalat sunnah gerhana.

Gerhana memang hanya sebuah  peristiwa alam biasa, tak lebih. Tapi bagi kita yang percaya pada keagungan Tuhan, maka setiap peristiwa patutlah menjadi momentum untuk terus memuji kebesaran-Nya dan berlindung pada-Nya.

Minggu, 06 Maret 2016

KEMATIAN IBU

Gajah mati meninggalkan gadingnya,
Manusia mati meninggalkan amalnya.

Dan, ibu itu mati meninggalkan bayinya...

Setiap kematian selalu menyisakan luka. Luka itu kian dahsyat ketika yang “pergi” adalah orang-orang terdekat. Atau sosok yang disayangi. Atau mereka yang kita anggap banyak berjasa dalam hidup kita atau orang kebanyakan.

Belum lama ini, saya menyaksikan seorang ibu dijemput oleh kematian. Hidupnya berakhir di atas tempat tidur, dalam sebuah ruang kecil dengan fasilitas seadanya di salah satu Puskesmas. Saya tidak perlu menyebut lokasinya untuk menghindari perilaku salah-menyalahkan yang jamak di negeri ini. Entoh, peristiwa seperti ini nyaris rutin terjadi di berbagai belahan negeri.

Awalnya tak ada rasa sedih atas kejadian itu. “Kematian adalah hal biasa,” pikirku. “Kematian adalah pintu untuk masuk ke dunia lain dan bertemu Sang Pencipta,” yakinku. Tapi, rasa pilu tiba-tiba menyelimuti tubuhku tatkala pekikan orang-orang terdekat almarhumah membahana, disusul tangisan dari seorang bocah kecil. Anak ingusan berusia sekitar dua tahun itu tiba-tiba memekik. Ia terlihat kaget karena nyaris semua orang di sekelilingnya menangis, termasuk gadis yang sedang menggendongnya.

Sang bocah itu adalah putri pertama dari sang ibu yang baru saja usai melahirkan anak keduanya. Sang  bayi selamat, namun sang ibu tidak tertolong. Darah yang terus mengalir dan tak bisa membeku usia prosesi kelahiran membuat nyawa ibu muda itu meregang beberapa jam kemudian.

Apa yang istimewa dari kejadian ini? Saya tidak sedang membincang tentang kecukupan fasilitas kesehatan dan kemampuan serta kesigapan para tenaga kesehatan. Saya tidak sedang menggugat jamaknya bidan yang belum memiliki ketrampilan menolong persalinan. Ataukah kemungkinan riwayat anemia almarhumah yang menyebabkan sulitnya darah membeku dan perilaku sang ibu selama periode kehamilan. Ataukah tentang MMR (maternal mortality rate) dan IMR (infant mortality rate).

Setiap kematian ibu sudah barang tentu memberi indikasi terang tentang rendahnya perilaku hidup sehat serta status gizi dan kesehatan ibu yang buruk.

Namun, tak dapat dipungkiri, kematian ibu merupakan indikasi kuat atas lemahnya pelayanan dasar kesehatan kepada rakyat. Setiap kematian ibu membawa taklim tentang obligasi negara pada warganya yang belum jua mewujud. Sehingga kita akan sulit bermimpi mendapatkan layanan kesehatan berkualitas dan berkelanjutan jika pada layanan alasnya belum terselesaikan.

Akhirnya, SELAMAT HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL...

Kamis, 25 Februari 2016

PEMUDA DAN PENGANGGUR

"...Anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja..."

Begitulah petikan gita darah juang. Theme song dari para demonstran yang dikarang oleh John Tobing, Budiman Sudjatmiko dkk yang dikenal luas pada awal 90an dari kawasan Bulaksumur, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

25 tahun sudah lagu itu dikumandangkan. Namun, hingga saat ini jumlah anak yang tak bersekolah di negeri ini masih bejibun. Dan para pemuda masih kesulitan mencari pekerjaan.

Pada tahun 2012, data Susenas mencatat 1,99 juta anak Indonesia usia 7-15 tahun yang tidak sekolah. Dan, di tahun 2013, BPS mencatat sebanyak 7,39 juta angkatan kerja berstatus sebagai pengangguran terbuka.

Sungguh, masalah negeri ini masih saja pelik. Namun hal ini tak berarti bahwa seluruh kerumitan harus dibebankan pada negara. Kekuatan "civil society" sepatutnya mengambil bagian di dalamnya.

ORANG KAMPUNG DAN PESAWAT TERBANG

(Ini bukan cerita tentang kelas eksekutif dan .....latif, hehehe)

Suatu ketika, seseorang dari kampung menaiki pesawat terbang. Berkat dukungannya terhadap salah seoarang kandidat kepala daerah yang jadi pemenang, dia telah merasakan sensasi menunggangi burung besi. Tak terpikirkan olehnya, jika harus merogoh kocek pribadi jutaan rupiah untuk sekali terbang.


Tapi, seribuan kilometer jarak yang ditempuhnya dengan pesawat terbang, menyisai gerutu. “Sudah bayar mahal, terbangnya cuma sejam”, omelnya dalam hati.

Baginya, unsur kecepatan (yang umumnya menjadi tuntutan orang kota) tidak semestinya kalah dengan pengalaman mengudara yang ingin dirasainya lebih lama. Kecepatan ala supir Kopata Yogya di tahun 90an tak diperlukannya.

Ini bukan tentang kecepatan dan ketepatan.
Ini tentang kenyamanan, kesenangan, dan sensasi.
Ini tentang “kesabaran” yang sudah kian tergerus.
Ini tentang sikap instan yang akan membunuhmu...

Minggu, 22 November 2015

MENGHADAPI KEKALAHAN

KEKALAHAN selalu saja membawa luka dan duka. Tapi, setiap kekalahan sesungguhnya memberikan pelajaran tiada tara.

*******

Dalam sejarah peradaban Islam, salah satu kekalahan paling menyakitkan terjadi ketika Perang Uhud (625 Masehi, 3 Hijriyah). Bukan hanya karena kematian paman Rasulullah SAW, Hamzah AS (alaihi salam), melainkan pula karena syahidnya para penghafal Al Qur'an.

Kemenangan yang telah hadir di depan mata, tiba-tiba berubah menjadi kekalahan. Ketidakpatuhan atas perintah Rasulullah SAW agar para pemanah tidak meninggalkan posisinya, dan godaan atas ghanimah (rampasan perang) dituding menjadi penyebab utama keberhasilan pasukan kaum Musyrikin  yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid memukul mundur pasukan Muslimin. Meskipun belakangan hari kemudian, Khalid Bin Walid memeluk Islam dan diberi gelar "pedang Allah".

Di dunia barat, salah satu catatan kelam tentang kekalahan adalah nasib yang menimpa John Milton (1807-1865 Masehi), Gubernur Florida USA pada masa Pemerintahan Presiden Abraham Lincoln.

Kala itu, penyerahan diri Jenderal Robert Lee yang memimpin pemberontakan negara-negara bagian di selatan USA (Alamaba, Florida, Georgia, Louisiana, Mississippi, South Carolina dan Texas), tak disetujui oleh John Milton. Dia juga tidak bisa menerima kemenangan Abraham Lincoln pada pemilu berikutnya. Akibatnya, dia mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri setelah sebelumnya menuliskan ketidaksetujuannya itu pada sepucuk surat yang ditujukan pada anaknya.

Masih banyak contoh lagi yang dicatat oleh sejarah tentang betapa sakitnya kekalahan. Tapi, sejarah juga menyajikan jamak kisah kebangkitan dari kekalahan demi kekalahan.

Kiranya belum lekang diingatan kita tentang sebuah peristiwa yang disebut sebagai "tragedi Istanbul". Liverpool yang telah tertinggal 0-3 dari AC Milan pada paruh pertama final liga champion tahun 2005, akhirnya dapat membalikkan keadaan. Kemal Ataturk stadium menjadi saksi kebangkitan dari kekalahan. Mukjizat di Istanbul ini kemudian diabadikan dalam film Fifteen Minutes That Shook The World. Konon, di ruang ganti pemain, salah satu penggalan kalimat dari Rafael Benitez pada anak asuhnya adalah "... Jangan tundukkan kepala kalian. Kalian tak pantas menyebut kalian pemain Liverpool kalau kepala kalian tertunduk..."

Begitu pula ketika Hiroshima dan Nagasika dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat pada tahun 1945, yang menewaskan sedikitnya 120 ribu jiwa penduduk Negeri Sakura. Kekalahan yang diderita Jepang memicu para pemimpin negeri itu untuk bangkit. Sekitar 25 tahun kemudian, giliran Jepang yang "membom" USA dengan produk-produk teknologi tinggi.

*******