Minggu, 06 Maret 2016

KEMATIAN IBU

Gajah mati meninggalkan gadingnya,
Manusia mati meninggalkan amalnya.

Dan, ibu itu mati meninggalkan bayinya...

Setiap kematian selalu menyisakan luka. Luka itu kian dahsyat ketika yang “pergi” adalah orang-orang terdekat. Atau sosok yang disayangi. Atau mereka yang kita anggap banyak berjasa dalam hidup kita atau orang kebanyakan.

Belum lama ini, saya menyaksikan seorang ibu dijemput oleh kematian. Hidupnya berakhir di atas tempat tidur, dalam sebuah ruang kecil dengan fasilitas seadanya di salah satu Puskesmas. Saya tidak perlu menyebut lokasinya untuk menghindari perilaku salah-menyalahkan yang jamak di negeri ini. Entoh, peristiwa seperti ini nyaris rutin terjadi di berbagai belahan negeri.

Awalnya tak ada rasa sedih atas kejadian itu. “Kematian adalah hal biasa,” pikirku. “Kematian adalah pintu untuk masuk ke dunia lain dan bertemu Sang Pencipta,” yakinku. Tapi, rasa pilu tiba-tiba menyelimuti tubuhku tatkala pekikan orang-orang terdekat almarhumah membahana, disusul tangisan dari seorang bocah kecil. Anak ingusan berusia sekitar dua tahun itu tiba-tiba memekik. Ia terlihat kaget karena nyaris semua orang di sekelilingnya menangis, termasuk gadis yang sedang menggendongnya.

Sang bocah itu adalah putri pertama dari sang ibu yang baru saja usai melahirkan anak keduanya. Sang  bayi selamat, namun sang ibu tidak tertolong. Darah yang terus mengalir dan tak bisa membeku usia prosesi kelahiran membuat nyawa ibu muda itu meregang beberapa jam kemudian.

Apa yang istimewa dari kejadian ini? Saya tidak sedang membincang tentang kecukupan fasilitas kesehatan dan kemampuan serta kesigapan para tenaga kesehatan. Saya tidak sedang menggugat jamaknya bidan yang belum memiliki ketrampilan menolong persalinan. Ataukah kemungkinan riwayat anemia almarhumah yang menyebabkan sulitnya darah membeku dan perilaku sang ibu selama periode kehamilan. Ataukah tentang MMR (maternal mortality rate) dan IMR (infant mortality rate).

Setiap kematian ibu sudah barang tentu memberi indikasi terang tentang rendahnya perilaku hidup sehat serta status gizi dan kesehatan ibu yang buruk.

Namun, tak dapat dipungkiri, kematian ibu merupakan indikasi kuat atas lemahnya pelayanan dasar kesehatan kepada rakyat. Setiap kematian ibu membawa taklim tentang obligasi negara pada warganya yang belum jua mewujud. Sehingga kita akan sulit bermimpi mendapatkan layanan kesehatan berkualitas dan berkelanjutan jika pada layanan alasnya belum terselesaikan.

Akhirnya, SELAMAT HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar