Selasa, 15 Maret 2016

ALAS KAKI DI RUMAH SAKIT

Siang ini saya membesuk adik ipar yang baru saja melahirkan di salah satu rumah sakit. Berkat izin Tuhan disertai pemeriksaan rutin dari sang ibu sejak trimester pertama kehamilan, ibu dan anaknya dalam kondisi sehat.

Saya tidak ingin bercerita tentang peristiwa kelahiran itu. Tapi tentang alas kaki yang berseliweran di rumah sakit yang menggangu mata dan pikiranku.

Di ruang-ruang tunggu rumah sakit, dengan mudah kita mendapati tulisan "buka alas kaki" atau semacamnya. Dan, nyaris semua pasien atau pembesuk akan patuh pada aturan itu. Kecuali mereka yang mungkin tak bisa membaca atau dengan sengaja abai atasnya.

Tapi tunggu dulu. Saya mengamati  aturan ini tampaknya tidak berlaku bagi tenaga kesehatan (nakes) di tempat itu. Buktinya, sebagian dari mereka tetap memakai alas kaki pada ruang-ruang dengan perintah "buka alas kaki".  "Mungkin ada pengecualian yang memang layak dibenarkan," pikirku.

Tapi, ketika kuamati sendal dan sepatu yang  mengalasi kaki para nakes itu, terlihat tidak sepenuhnya bersih apalagi steril. Alas kaki itu digunakan melintasi lantai-lantai yang tak bersih.

Tapi, disini kita tak boleh protes dan wajib mengerti dengan keistimewaan itu...

Selasa, 08 Maret 2016

GERHANA MATAHARI

Disini, di seputaran Kota Mamuju, 9 Maret 2016, peristiwa gerhana matahari dapat diamati. Sang surya tampak laksana bulan sabit. Bumi tidak tertutup sempurna oleh bulan.

Sebagian manusia asyik mengamati peristiwa alam ini dengan peralatan seadanya atau memakai bantuan teknologi. Tapi tidak sedikit pula yang bertebaran di masjid-masjid dan lapangan guna menunaikan shalat sunnah gerhana.

Gerhana memang hanya sebuah  peristiwa alam biasa, tak lebih. Tapi bagi kita yang percaya pada keagungan Tuhan, maka setiap peristiwa patutlah menjadi momentum untuk terus memuji kebesaran-Nya dan berlindung pada-Nya.

Minggu, 06 Maret 2016

KEMATIAN IBU

Gajah mati meninggalkan gadingnya,
Manusia mati meninggalkan amalnya.

Dan, ibu itu mati meninggalkan bayinya...

Setiap kematian selalu menyisakan luka. Luka itu kian dahsyat ketika yang “pergi” adalah orang-orang terdekat. Atau sosok yang disayangi. Atau mereka yang kita anggap banyak berjasa dalam hidup kita atau orang kebanyakan.

Belum lama ini, saya menyaksikan seorang ibu dijemput oleh kematian. Hidupnya berakhir di atas tempat tidur, dalam sebuah ruang kecil dengan fasilitas seadanya di salah satu Puskesmas. Saya tidak perlu menyebut lokasinya untuk menghindari perilaku salah-menyalahkan yang jamak di negeri ini. Entoh, peristiwa seperti ini nyaris rutin terjadi di berbagai belahan negeri.

Awalnya tak ada rasa sedih atas kejadian itu. “Kematian adalah hal biasa,” pikirku. “Kematian adalah pintu untuk masuk ke dunia lain dan bertemu Sang Pencipta,” yakinku. Tapi, rasa pilu tiba-tiba menyelimuti tubuhku tatkala pekikan orang-orang terdekat almarhumah membahana, disusul tangisan dari seorang bocah kecil. Anak ingusan berusia sekitar dua tahun itu tiba-tiba memekik. Ia terlihat kaget karena nyaris semua orang di sekelilingnya menangis, termasuk gadis yang sedang menggendongnya.

Sang bocah itu adalah putri pertama dari sang ibu yang baru saja usai melahirkan anak keduanya. Sang  bayi selamat, namun sang ibu tidak tertolong. Darah yang terus mengalir dan tak bisa membeku usia prosesi kelahiran membuat nyawa ibu muda itu meregang beberapa jam kemudian.

Apa yang istimewa dari kejadian ini? Saya tidak sedang membincang tentang kecukupan fasilitas kesehatan dan kemampuan serta kesigapan para tenaga kesehatan. Saya tidak sedang menggugat jamaknya bidan yang belum memiliki ketrampilan menolong persalinan. Ataukah kemungkinan riwayat anemia almarhumah yang menyebabkan sulitnya darah membeku dan perilaku sang ibu selama periode kehamilan. Ataukah tentang MMR (maternal mortality rate) dan IMR (infant mortality rate).

Setiap kematian ibu sudah barang tentu memberi indikasi terang tentang rendahnya perilaku hidup sehat serta status gizi dan kesehatan ibu yang buruk.

Namun, tak dapat dipungkiri, kematian ibu merupakan indikasi kuat atas lemahnya pelayanan dasar kesehatan kepada rakyat. Setiap kematian ibu membawa taklim tentang obligasi negara pada warganya yang belum jua mewujud. Sehingga kita akan sulit bermimpi mendapatkan layanan kesehatan berkualitas dan berkelanjutan jika pada layanan alasnya belum terselesaikan.

Akhirnya, SELAMAT HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL...