Kamis, 25 Februari 2016

ORANG KAMPUNG DAN PESAWAT TERBANG

(Ini bukan cerita tentang kelas eksekutif dan .....latif, hehehe)

Suatu ketika, seseorang dari kampung menaiki pesawat terbang. Berkat dukungannya terhadap salah seoarang kandidat kepala daerah yang jadi pemenang, dia telah merasakan sensasi menunggangi burung besi. Tak terpikirkan olehnya, jika harus merogoh kocek pribadi jutaan rupiah untuk sekali terbang.


Tapi, seribuan kilometer jarak yang ditempuhnya dengan pesawat terbang, menyisai gerutu. “Sudah bayar mahal, terbangnya cuma sejam”, omelnya dalam hati.

Baginya, unsur kecepatan (yang umumnya menjadi tuntutan orang kota) tidak semestinya kalah dengan pengalaman mengudara yang ingin dirasainya lebih lama. Kecepatan ala supir Kopata Yogya di tahun 90an tak diperlukannya.

Ini bukan tentang kecepatan dan ketepatan.
Ini tentang kenyamanan, kesenangan, dan sensasi.
Ini tentang “kesabaran” yang sudah kian tergerus.
Ini tentang sikap instan yang akan membunuhmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar